Pemuja SBY didepak,
Peran
Anas Lampaui SBY
Partai Demokrat mencopot Ruhut Sitompul dari posisi Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi dalam struktur
kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat.Posisi Ruhut digantikan oleh Nurul Komar yang
sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Departemen Kominfo Demokrat.Ruhut Sitompul dicopot dari jabatan Ketua Departemen
Kominfo sejak September lalu.Pencopotan dilakukan sebelum penyerahan berkas
kepengurusan partai ke Komisi Pemilihan Umum.Selain penggantian Ruhut, Demokrat
merotasi sejumlah pengurusnya.Misalnya, Andi Nurpati menjadi Kepala Divisi
Eksternal dan Lembaga Swadaya Masyarakat.Sedangkan Ketua Departemen Pemuda dan
Olahraga, I Gede Pasek Suardika, menggantikan Andi Mallarangeng yang mundur
dari jabatan sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat.
Ketua Dewan
Pimpinan Daerah DKI Jakarta Partai Demokrat Nachrowi Ramlimenduga Ruhut Sitompul dipecat karena alasan etika dan disiplin. Menurut
dia, Ruhut terlalu sering mebicarakan sisi buruk kader Demokrat lain sehingga
mengakibatkan citra partai turun. "Jangan jadi jeruk makan jeruk, saling
serang di antara kita sendiri," kata Nachrowi (15-12-2012).
Wakil Sekretaris
Jenderal Partai Demokrat, Saan Mustopa, membantah Ketua DPP Bidang Komunikasi dan Informasi,
Ruhut Sitompul dipecat karena tidak santun dalam mengeluarkan pernyataan.
"Partai punya aturan, mekanisme, dan etika," ujar dia di Gedung DPR (14-12-2012).
Ia
juga membantah jika Ruhut dipecat karena sering mengeluarkan pernyataan agar Ketua Umum Demokrat,
Anas Urbaningrum, mundur.
"Tidak ada hubungannya sama sekali," kata Saan. Menurut dia,
digantinya jabatan Ketua DPP Bidang Kominfo bertujuan untuk penyegaran partai.
"Selama ini kami mengadakan evaluasi kinerja tiap anggota untuk dicocokkan
agar memaksimalkan potensi," Saan mengatakan.
Anggota Komisi Hukum itu
menolak partainya disebut tidak solid terkait dengan penggantian Ruhut.
"Itu sudah sesuai mekanime, bukan merupakan sesuatu yang
tidak-tidak," kata Saan.
Sementara
itu, Ruhut membantah kalau dirinya sudah dicopot dari kepengurusan DPP PD.
Menurutnya, hanya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono
yang bisa mencopotnya dari kepengurusan partai. Akan tetapi, Wakil Sekretaris
Jenderal Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf menilai bahwa rotasi terhadap
kepengurusan di DPP menjadi kewenangan penuh DPP, bukan Dewan Pembina.
"Kecuali kalau yang dirotasi itu terkait elit terbatas harus atas
persetujuan Dewan Pembina. Kalau hanya kepala departemen sih tidak perlu, cukup
DPP," ucap Nurhayati, Jumat (14-12-2012), di Kompleks Parlemen Senayan.
Rotasi ini
merupakan hal yang wajar dan harus diterima semua anggota Partai Demokrat.Ia
pun mengatakan bahwa pertimbangan melakukan rotasi dihasilkan dalam rapat
harian terbatas yang berisi elit-elit partai Demokrat. "Elit terbatas itu
terdiri dari Ketua Umum (Anas Urbaningrum), Wakil Ketua Umum (Max Sopacua dan
Jhonny Allen), Bendahara Umum (Sartono Hutomo), Sekretaris Jenderal (Edhie
Baskoro Yudhoyono), dan Wakil Sekretaris Jenderal (Saan Mustopa)," ucap
Nurhayati.
Saat
ditanyakan lebih lanjut terkait pernyataan Ruhut bahwa pencopotannya tidak sah
karena tanpa persetujuan Dewan Pembina, Nurhayati mengatakan, rotasi sudah
sesuai dengan Anggaran Dasar (AD)/Anggaran Rumah Tangga (ART). "Saya kira
semuanya sudah sesuai dengan AD/ART partai. Ini hanya re-roganisasi, tidak ada
istilah pemecatan.One day, kalau Pak Ruhut masuk lagi, kita tak akan
tahu," imbuhnya.
Sementara
itu, Didepaknya Ruhut Sitompul dari kepengurusan Dewan Pimpinan (DPP)
Partai Demokrat diyakini lantaran perbedaan sikap Ruhut dengan mainstream DPP di bawah kepemimpinan Anas Urbaningrum.Gun
Gun Heryanto, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, mengatakan, desakan Ruhut agar Anas mundur sebagai Ketua
Umum DPP Partai Demokrat tentunya menimbulkan jarak komunikasi politik antara
Ruhut dan pengurus DPP, terutama Anas.
"Posisi
Ruhut yang dianggap menyimpang di dalam perspektif kubu Anas tentunya dengan mudah diposisikan sebagai orang yang membahayakan
eksistensi Anas dan kawan-kawan," kata Gun Gun (14-12-2012).Gun Gun
menilai Anas tentu sulit ketika mengambil keputusan. Di satu sisi, keputusan
itu bisa menjadi bola liar lantaran Ruhut bakal semakin kencang mendesak Anas
mundur atau keputusan itu bisa menjadi katalisator opini publik negatif bagi
Anas.
"Tapi,
di sisi lain, membiarkan menjadi elite pengurus DPP riskan bagi Anas karena
sangat mungkin menjadi katalisator bagi ketidaksolidan pengurus. Selain itu, menjadi
preseden buruk bagi sistem keorganisasian. Maka, di antara dua pilihan yang
serbasulit itu, Anas mengambil sikap 'memarkir' Ruhut dari kepengurusan,"
katanya.
Pengajar
Universitas Paramadina itu menambahkan, Ruhut tentunya sulit menerima pencopotan itu.Sebelumnya, Ruhut mendapat jabatan
elite sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Demokrat. Kini,
politisi yang dekat dengan Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang
Yudhoyono itu tak memiliki jabatan apa pun di DPP."Terdepaknya Ruhut ini
menjadi tamparan bagi SBY karena satu demi satu orang dekat SBY rontok,"
katanya. Sebelumnya, Andi Mallarangeng telah mundur dari Sekretaris Dewan Pembina
Demokrat.
Dengan mundurnya dua kader kesayangan SBY dari
kepengurusan PD, peran
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap
sudah tidak sekuat dulu.Perannya telah digantikan secara pelan tapi pasti oleh
Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum.
Pengamat Politik, M. Qodari mengatakan
pengaruh SBY sudah tidak sebesar yang diduga.SBY, lanjutnya hanya popular di
luar partai tetapi secara internal, posisinya telah tergeser. “Secara internal
sudah terjadi pergeseran. The real chairman adalah Anas,” katanya.
Ia
mengatakan sudah banyak realitas politik yang terjadi pada PD yang menunjukkan
pergeseran tersebut.
Misalnya pada Munas PD beberapa waktu lalu, jagoan SBY
untuk pemilihan ketua umum yakni Andi Mallarangeng malah kalah telak.Tak hanya
itu, banyaknya kader PD yang tersangkut korupsi meski sudah diingatkan SBY juga
menjadi parameter.
Belum lagi, saat ini banyak pengurus di daerah yang lebih
banyak ‘orang-orang’-nya Anas. “Jadi, secara internal Anas sudah jauh lebih kuat
daripada SBY,” kata Qodari.
Menurutnya,
karena faktor-faktor itu pula hubungan SBY dan Anas belum bisa mencair
sepenuhnya.Apalagi, SBY dinilainya masih belum bisa menerima sepenuhnya kursi
ketua umum PD diduduki Anas.
“Ya hubungan mereka tegang terus selama SBY belum
bisa menerima Anas sebagai ketua umum,” tambah Qodari.Ia juga menilai pemecatan
Ruhut Sitompul dari jabatannya memperlihatkan kekuatan Anas dan memperlemah
kedudukan SBY.Sebab, Ruhut yang selalu berbicara dan mengagungkan SBY nyatanya
tidak ada yang membela, pungkasnya (23-12-2012).
Elektabilitas Naik, Rakyat Rindukan
Kepemimpinan Golkar?
![]() |
Perpecahan ditubuh
partai Golkar tampaknya tidak terlalu memberikan dampak signifikan. Pasalnya,
walaupun partai berlambang beringin itu pecah ke dalam beberapa partai, dan terakhir
dengan munculnya Partai Nasdem, atau adanya isu perpecahan yang disebabkan oleh
“kediktatoran” Abu Rizal Bakrie yang ngogot
jadi Capres 2014, partai beringin tetap mampu melejit menjadi salah satu partai
top saat ini.
Setidaknya hal itu
seperti dirilis oleh beberapa lembaga survey di Indonesia yang selalu
menampilkan indeks elektabilitas Partai Golkar yang semakin menunjukkan tren
positif. Seperti hasil survey termutakhir yang dirilis LSI Network misalnya,
elektabilitas partai Golkar berada di peringkat teratas dengan raihan 21
persen, disusul PDI Perjuangan dengan 17,2 persen, dan Demokrat yang jeblok ke
14 persen. Bagi Golkar tentu ini menjadi sebuah pencapaian yang fantastis.
Akan tetapi hasil itu
tidak membuat Ketua Umum Partai Golkar, Abu Rizal Bakrie terbuai, dirinya bahkan
meminta seluruh kader agar terus meningkatkan soliditas partai agar semakin
kuat dan dapat memenangkan Pemilu yang akan digelar pada tahun 2014 mendatang. “Itu
(Golkar nomor satu) kalau pemilu hari ini. Sementara pemilu masih kurang dari
dua tahun lagi. Maka kita harus jaga pencapaian dan terus bekerja untuk
rakyat,” kata calon presiden Partai Golkar untuk Pemilu 2014 itu.
Penguatan internal
maupun eksternal menurutnya harus selalu ditingkatkan dengan membangun
kedekatan dengan rakyat. “Mari kesampingkan
ego kita yang kadang berbeda-beda dan berseberangan. Mari kita satukan langkah
songsong pemilu,” kata Ical, sapaan akrab Abu Rizal Bakrie dalam sambutannya
pada acara syukuran HUT ke-48 Partai Golkar di Kantor Dewan Pimpinan Pusat
Partai Golkar, Slipi, Jakarta. “Di ultah ini kita harus menyatakan, kita
sungguh-sungguh berkarya untuk rakyat,” lanjutnya.
Ical, juga yakin bahwa
mencapaian Partai Golkar saat ini merupakan suatu pertanda bahwa rakyat merindukan
Golkar kembali memimpin NKRI. “Rasanya seperti rakyat mengharapkan Golkar
kembali memimpin,” katanya pada waktu yang berbeda. Bos PT Lapindo Brantas Inc
itu juga berpendapat kalau keinginan
rakyat itu didasari kepemimpinan Golkar yang selalu berorientasi pada
kepentingan rakyat. “Jadi InsyaAllah Golkar memenangkan Pemilu 2014,” ujar Ical
optimis.
Ia juga menepis bahwa
elektabiltas yang diraih Golkar saat ini adalah limpahan suara dari
elktabilitas partai lain yang mulai menurun. Melainkan karena Golkar memang
memiliki akar dan jaringan yang kuat ditengah masyarakat Indonesia. “Jadi saya
lihat perolehan suara Golkar bagus bukan karena kondisi jelek partai lain,”
tegasnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar